Kamis, 16 Februari 2012

Februari


FEBRUARI,
BULAN YANG UNIK

BULAN TIDAK PENTING
        
 Kalender matahari yang sekarang kita pakai, berasal dari Zaman Romawi ratusan tahun sebelum Masehi. Raja Romawi pertama, Romulus, membuat system kalender untuk menentukan waktu melakukan kegiatan keagamaan serta musim tanam dan panen. Waktu itu, kalender dibuat berdasarkan perhitungan Bulan dan bikan Matahari.
        Awal tahun ditentukan bulan Maret dan akhir tahun pada bulan Desember. Kemana Januari dan Februari ? Tidak ada ! Januari dan Februari jatuh di musim dingin. Musim dingin tidak penting bagi pertanian.

BULAN TIDAK DISUKAI
        Raja Romawi berikutnya adalah Numa Pompilius. Ia menyempurnakan sistem kalender pendahuluannya. Apalagi, kalender semakin dibutuhkan juga untuk penentuan waktu melakukan upacara keagamaan.
        Pada masa ini dibuatlah bulan Januari dan Februari. Dengan demikian, dalam setahun terdapat 12 bulan, sama seperti umumnya jumlah bulan pada kalender yang berdasarkan perputaran bulan.
        Nama Februari diambil dari istilah Latin Feebrum yang berarti penyucian. Ini berkaitan dengan upacara penyucian yang diadakan kaum Romawi pada tanggal 15 Februari.
        Jumlah hari dalam setahun juga ditentukan 355 hari. Angka ini mendekati lama waktu peredaran bulan dalam setahun, yaitu 345,5 hari. Awalnya, Januari dan Februari yang terdiri dari 28 hari. Namun, pada masa itu, jumlah ganjil menandakan sial. Sepuluh bulan yang lain sudah terdiri dari 29 atau 31 hari. Jumlah hari dalam setahun baru 354 hari. Apa yang dilakukan Raja Numa ? Numa menanmbahkan satuhari pada bulan Januari dan membiarkan Fenruari tetap 28 hari. Bagaimana dengan sial di bulan Februari ? Ah, tidak apa-apa. Sialbisa dihapus dengan upacara penyucian. Lagipula, itu musim dingin. Mudah-mudahan dengan jumlah hari yang sedikit, musim dingin cepat berganti. Banyak yang menduga, itulah pertimbangan Raja Numa waktu itu.

BULAN YANG JUMLAH HARINYA TIDAK TETAP
        Sampai kini, Februari  masih tetap dipertahankan 28 hari. Hanya kadang-kadang, jumlah hari di bulan ini disesuaikan. Paling tidak, tiga kali Februari “ diatur ” jumlah harinya. Pertama, oleh Raja Numa. Setiap beberapa tahun sekali, jumlah hari Februari diatur. Ini untuk mencocokkan penanggalan dengan musim yang seungguhnya terjadi.
        Berikutnya, oleh Julius Caesar, pada 46 BC. Pada masa inilah kalender dibuat berdasarkan matahari. Pada masa ini pula muncul aturan tentang tahun kabisat, yaitu Februari menjadi 29 hari setiap emapat tahun sekali. Kalendernya kemudian disebut kalender Julius.
        Selanjutnya, oleh Paus Gregorius XIII, tahun 1582. saat itu kalender Julius tidak bisa tepat lagi dipakai menentukan hari raya Paskah. Aturan tentang tahun kabisat disempurnakan. Februari berjumlah 29 hari di tahun-tahun yang angkanya habis dibagi empat. Jika anka tahun habis di bagi angka 100, tahun kabisat terjadi jika tahun itu habis dibagi empat dan empat ratus. Kalender Julius kemudian diganti oleh kalender Gregorian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar